Empat abad silam, setiap pagi seorang lelaki menemui seorang
pengemis yahudi tua renta, tak bergigi, lumpuh serta buta kedua matanya,
untuk melembutkan makanannya. Pengemis itu begitu membenci Islam
sebagaimana ia membenci Rosulullah saw.
Saking begitu besar
kebenciannya terhadap Rasulullah, sehingga setiap harinya ia senantiasa
mencaci maki Rasulullah saw. Ia memuntahkan kebenciannya kepada Nabi
yang datang dari bangsa Arab, bukan Yahudi.
Selain melembutkan
makanan, lelaki itu juga memberikan suap demi suap makanan ke mulut sang
pengemis tua itu. Dan pada setiap kali suapan itu pula, sang pengemis
berkata “bunuh Muhammad... bunuh Muhammad” dan berbagai cacian yang
terus keluar dari mulutnya.
Namun si Lelaki ini tetap saja
dengan lembut memasukan makanan sesuap demi sesuap ke dalam mulut
pengemis tua tersebut, hingga suatu ketika si lelaki tersebut tidak lagi
datang menyuapi.
Hari itu, Abu Bakar Ash Shidiq menggantikan
perannya. Suap demi suap makanan di masukkan ke dalam mulut si pengemis.
“Siapa kau?” pengemis itu terkejut. "Engkau pasti bukan orang yang
biasa menyuapiku. Orang itu lebih lembut daripada kau,” lanjutnya,
Abu
Bakar menjawab dengan bertanya, “Engkau tahu siapa yang biasa
menyuapimu?" Abu Bakar melanjutkan perkataannya. “Dialah Muhammad,
Rasulullah. Kini beliau telah wafat. Maka aku datang menggantikan
beliau."
Terhenyaklah si pengemis yahudi itu. Serta merta ia menangis. Air matanya
deras mengalir di pipinya. Hingga beberapa saat kemudian, dia pun menyatakan dirinya masuk Islam.
Ada
buah yang bisa dipetik dari kisah tersebut betapa maasa lalu, kini dan
masa depan selalu terkait, karena itu berhati-hatilah dan waspadai
kecenderungan hati, sebab apa yang ada di hati saat ini bisa berubah
total di masa depan. Berujar seorang ulama besar Ibnu Katsir, “Harapan
itu maksudnya Allah mengubah cinta sesudah benci, rasa sayang sesudah
berlawanan, dan keakraban sesudah bercerai berai."
Menyangkut
perasan suka dan benci, sahabat sekaligus sepupu Rasulullah saw, Ali bin
Abi Thalib ra “Bencilah musuhmu sekedarnya. Karena boleh jadi suatu
hari nanti ia akan jadi orang yang kau cintai” (Ali bin Abi
Thalib ra).
Sungguh,
bahwa segala sesuatu terdapat kadarnya, maka janganlah kita berlebihan
terhadapnya. ”Jadikan rasa cenderungmu senantiasa wajar” (Ibnul Jauzi).
Dengan hadirnya rasa benci ataupun cinta, rasa sayang ataupun
bermusuhan,
serta keakraban ataupun bercerai berai, mampu membawa kita untuk
memahami sebuah proses Bahwa segalanya akan senantiasa mengalami
perubahan.
Hati dan perasaan yang ditumbulkan selalu mengalami
proses perubahan yang tak akan pernah terhenti hingga sang waktu telah
terhenti dengan sendirinya.
Adanya perubahan yang mengajarkan
kepada kita untuk menghindari sikap mengklaim ataupun justifikasi
terhadap seseorang karena telah hadir rasa kecenderungan dalam diri.
Perlu untuk memahamkan dan menanamkan dalam diri, bahwa rasa
kecenderungan itu akan dapat berubah di waktu yang tak ditentukan
sebagaimana kisah pengemis tersebut diatas.
Sebagaimana pula
banyaknya orang-orang Quraisy yang memeluk islam setelah kota Mekkah di
taklukkan. Sebagaimana pula kisah Umar bin Khattab yang pada awal
mulanya begitu membenci islam dan Rasulullah saw bahkan hampir
membunuhnya, namun pada akhirnya ia menjadi salah satu sahabat terbaik
Rasulullah saw, yang begitu mencintai islam dan Rasulullah saw.
Tak
dapat di pungkiri bahwa setiap manusia memiliki kecenderungan perasaan
terhadap sesuatu, baik itu manusia atau benda. Namun, yang terpenting
bagaimana memanajemen kecenderungan tersebut dan melatih diri untuk
selalu memiliki alasan dan dasar yang kuat pada kebenaran. Sehingga
ketika mencintai sesuatu maka ia layak dicintai karena kebenaran dan
ketika membenci juga berdasar kebenaran.
Sangat bijak untuk
mengikuti doa Rasulullah “Ya Allah, cintakanlah kami akan keimanan dan
jadikanlah ia hiasan dalam hati-hati kami, dan jadikanlah kami membenci
kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan” (HR.Ahmad)
Belajar berlaku
adil, dengan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, serta sesuai
kadarnya. “Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang diantara kamu
dengan orang-orang yang pernah kamu musuhi di
antara mereka...” (QS.Al Mumtahanah:7) . Wallahu 'alam bi shawab
Oleh Meylina Hidayanti